Info Madrasah
Minggu, 14 Agu 2022
  • Selamat di Website MA Futuhiyyah-2 Mranggen

Dr. Hj. Amiroh Ambarwati,S.Pd., M.A. (Widyaiswara BDK Jateng), Kurikulum Merdeka: Kolaborasi, Fleksibel, Diferensiasi

Diterbitkan : - Kategori : Berita

Sebagai institusi lembaga pendidikan, MA Futuhiyyah 2 Mranggen memiliki komitmen kuat untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satunya dengan mengupgrade pemahaman lebih dalam lagi tentang Implementasi Kurikulum Merdeka.

MA Futuhiyyah 2 Mranggen diberi mandat oleh Kepala Kantor Kementerian Agama kabupaten/Kota Demak untuk melaksanakan implementasi Kurikulum Merdeka tahun pelajaran 2022/2023 berdasarkan surat rekomendasi nomor B.2382/Kk.11.21/2/KP.07.6/06/2022 tertanggal 13 Juni 2022.

Berdasarkan hal tersebut, secara mandiri Manajemen Madrasah menggelar kegiatan yang bertajuk ‘MA Futuhiyyah 2 Mranggen Siap Menyongsong Implementasi Kurikulum Merdeka’ dengan mengundang Widyaiswara dari Balai Diklat Keagamaan (BDK) Semarang Balitbang Diklat Kementerian Agama RI Dr. Hj Amiroh Ambarwati, S.Pd., M.A.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Ahad (24/7/2022) di ruang aula dan pertemuan Gedung Workshop Jl. Makam Mbah Ibrahim Brumbung, diikuti oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan MA Futuhiyyah 2.

Kepala Madrasah, KH Ahmad Faizurrahman Hanif, Lc, menyampaikan agar para guru dapat mengikuti kegiatan dengan baik dan maksimal sampai akhir sehingga dapat memahami konsep Kurikulum Merdeka secara utuh untuk diimplementasikan dalam pembelajaran.

“Tujuan kegiatan ini, agar para guru menyerap pengetahuan lebih dalam tentang kurikulum Merdeka. Karena jika para guru mengetahui betul proses pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka, maka yang diuntungkan adalah siswa kita sendiri. Sebab dalam kurikulum merdeka akan memaksimalkan daya pikir dan kreatifitas siswa, sehingga nantinya MAF2 akan lebih maju, unggul dibanding madrasah-madrasah lain,” jelasnya setelah membuka kegiatan dengan Basmalah.

Disampaikan, Kepala Madrasah mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan antusiasme guru mengikuti kegiatan ini. Lebih khusus kepada narasumber, ditengah kesibukannya mau meluangkan waktu memberikan pengetahuan dan pemahaman termasuk aplikasinya dalam pembelajaran Kurikulum Merdeka kepada para guru MA Futuhiyyah 2 Mranggen. Ia berharap kegiatan ini memberikan manfaat kepada semua elemen warga madrasah.

Sementara, Wakil Kepala Madrasah (Wakamad) Bidang Kurikulum MA Futuhiyyah 2 Mranggen, H Moh. Nur Wahid, M.S.I memaparkan bahwa Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam dimana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi.

“Sesuai regulasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi yang telah meluncurkan Kurikulum Merdeka mulai T.P. 2022/2023. Lebih spesifik, Menteri Agama Republik Indonesia telah menerbitkan KMA Nomor 347/2022 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Merdeka pada Madrasah. Ini berarti Bapak/Ibu sebagai Guru Mapel di Kelas X MAF2 dianggap siap mengimplementasikan kurikulum merdeka tersebut. Meskipun demikian, tetap dituntut kolaborasi dengan Guru Mapel serumpun atau Guru Mapel lainnya untuk menyusun modul ajar,” paparnya.

Lanjutnya, di dalam kurikulum ini terdapat projek untuk menguatkan pencapaian profil pelajar Pancasila. Dimana dikembangkan berdasarkan tema tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah. Ia menghimbaunya guru lebih memahami hal tersebut dalam praktiknya nanti.

Dalam paparannya, Dr. Hj Amiroh Ambarwati, S.Pd., M.A yang juga alumnus MA Futuhiyyah 2, menyampaikan ada beberapa perbedaan mendasar implementasi Kurikulum Merdeka dengan Kurikulum 2013. Perbedaan tersebut antara lain; Kurikulum 2013 dirancang berdasarkan tujuan Sistem Pendidikan Nasional dan Standar Nasional Pendidikan, sedangkan Kurikulum Merdeka menambahkan pengembangan profil pelajar Pancasila.

“Adapun istilah P5 yang dikenal dengan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, pemerintah telah menyediakan 7 tema, lalu khusus madrasah, pemerintah menambahkan 10 tema Profil Rahmatan lil Alamin untuk dikembangkan juga,” ujarnya.

Sambungnya, Jam Pelajaran (JP) pada Kurikulum 2013 diatur per minggu, sedangkan Kurikulum Merdeka menerapkan Jam Pelajaran per tahun. Lalu alokasi waktu pembelajaran pada Kurikulum Merdeka lebih fleksibel daripada Kurikulum 2013 yang melakukan pembelajaran rutin perminggu dengan mengutamakan kegiatan di kelas.

“Selain itu dalam Kurikulum Merdeka, kompetensi yang dituju dan pola asesmen juga berbeda,” imbuhnya.

Doktor Bidang Manajemen Kependidikan ini melanjutkan, asesmen pada kurikulum merdeka terdiri atas pertama, asesmen diagnostik yang dilakukan untuk mendiagnosis kompetensi, kekuatan, dan kelemahan siswa; kedua, asesmen formatif merupakan penilaian proses pembelajaran; ketiga, asesmen sumatif yang merupakan penilaian akhir. 

Doktor yang berhasil mempertahankan disertasinya berjudul ‘Pengembangan Model Manajemen Penjaminan Mutu Pendidikan Berbasis Kinerja Akademik di Madrasah’ dengan yudisium Cumlaude ini menyimpulkan setidaknya ada tiga prinsip dalam kurikulum merdeka yakni kolaborasi, Fleksibel, dan pembelajaran berdiferensiasi.

“Kurikulum Merdeka dinilai dapat mengatasi learning loss pada siswa dan guru. kurikulum merdeka  memberikan guru fleksibiltas dalam mengajar sesuai dengan kapasitas muridnya atau biasa dikenal dengan istilah teaching at the right level (TaRL),” terangnya. 

Salah satu guru, M. Choeron, S.Ag mengungkapkan bahwa dengan mengikuti kegiatan ini, ia lebih memahami pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka.

“Perubahan adalah keniscayaan seiring tuntutan zaman. Karena itu, mindset guru pun perlu dibangun dan mau berubah. Alhamdulillah, seusai pemaparan tadi saya jauh lebih memahami tentang Kurikulum Merdeka dalam menyusun Kurikulum Operasional Madrasah (KOM), menentukan Capaian Pembelajaran, tujuan pembelajaran, alur tujuan pembelajaran, modul ajar, dan instrument assesmen,” pungkasnya. (bz)

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar